Hisab oleh Muhammadiyah

Salah satu waktu dimana Muhammadiyah ‘naik daun’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Muhammadiyah dikenal memakai metode hisab yang kadang kala mendahului atau berbeda dengan penetapan waktu oleh pihak pemerintah, yang memakai metode rukyat, dalam menentukan awal bulan Qamariah. Dalam beberapa tahun belakangan, seperti pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Idul Fitri pada Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, namun ada pula yang merayakannya pada Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan bahkan ada pula yang baru pada hari Minggu-nya (5 April) dengan mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994, pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 M serta Idul Adha 1431/2010 M. Idul Fitri pada tahun ini, 1432 H/2011 M, juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Syawwal versi Muhammadiyah berbeda dengan versi pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari dianggap tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga kritik yang paling tajam adalah tidak mengikuti Rasullullah SAW yang jelas-jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.

Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran :

  • “Dan Dia-lah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
  • “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS 55:5)
  • “Dan Dia-lah yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesarannya bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. 10:5)
  • “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Robb-mu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.“ (QS.17: 12)
  • “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk istirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".
  • “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji. Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.“ (QS 2:189)

Keseluruhan ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa perhitungan tahun dan waktu-waktu ibadah adalah dengan berpegang pada manzilah-manzilah matahari dan bulan. Bukan hanya untuk bulan Ramadhan tapi seluruh bulan Islam (seluruhnya 12 bulan) termasuk bulan Dzul Hijjah, bulan Ramadhan, dan bulan-bulan yang lainnya. Dan penentuan awal bulan itu ditandai dengan terlihatnya hilal. Bukan dengan munculnya bulan baru, sebab bulan baru (hampir) sama sekali tidak bisa dilihat. Hadits Nabi Muhammad SAW:

Sesungguhnya beliau SAW pernah memberitahukan tentang Ramadhan : Jangan memulai shoum hingga kalian melihat hilal, dan jangan iftar (mengakhiri ibadah shiyam) hingga kalian melihat hilal. Dan jika berkabut langit (hingga kalian tidak bisa melihatnya) maka hitunglah." (H.R. Muslim)

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits diatas. Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat. Hal itulahyang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi dari tuntunan Rasulullah SAW. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang saya ringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY Yogyakarta.

Namun sebelum itu, ada baiknya kita pelajari bersama, “apakah Hilal itu”? Gambar di bawah ini menunjukkan peredaran Bulan mengelilingi Bumi, dan bersamaan dengan itu Bumi pun beredar mengelilingi Matahari. Satu kali Bulan mengelilingi Bumi disebut satu bulan dan satu kali Bumi mengelilingi Matahari disebut satu tahun. Matahari, Bumi, dan Bulan pun masing-masing beredar pada porosnya, dan peputaran Bumi pada porosnya inilah yang menjadikan adanya siang dan malam.image

image

Sebagai sebuah benda langit yang mengorbit Bumi, Bulan memiliki fase-fase. Ada fase bulan baru 1 , perempat pertama 2 , bulan purnama 3 , perempat kedua 4 . Selang waktu yang diperlukan dari salah satu fase bulan untuk kembali ke fase yang sama, disebut periode sinodis. Dengan acuan periode sinodis bulan inilah sistem penanggalan Hijriyah, yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam atas prakarsa Khalifah Umar r.a pada tahun 638 M, dibangun dan umur bulan di dalamnya bervariasi, diantara 29 atau 30 hari.

 

 

 

 

 

imagePada gambar disamping, ditunjukkan bahwa, ada saatnya ketika Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis lurus 1. Peristiwa inilah yang disebut dengan ijtimak/konjungsi dan hal ini disebut sebagai kelahiran bulan baru (new-moon). Dari saat ini sampai seterusnya umur bulan bisa ditentukan (dihitung).

Pada kedudukan Ijtimak, Bulan berada "tepat segaris" di antara Bumi dan Matahari. Dikatakan bahwa Bulan dan Matahari berada di bujur ekliptika yang sama. Pada saat ijtimak, bulan tidak dapat dilihat oleh penduduk di Bumi karena bagian gelap Bulan menghadap Bumi. Apabila Bulan beredar sedikit dari kedudukan 1 dan beralih pada kedudukan 1a, maka sebagian kecil permukaan Bulan yang bercahaya dapat dilihat (dari Bumi), karena hanya sebagian kecil cahaya Matahari dipantulkan ke Bumi. Bagian kecil pantulan Bulan yang halus cahayanya yang dapat dilihat (dari Bumi) itulah yang disebut dengan hilal. Hilal berbentuk seperti sabit melengkung yang halus di ufuk barat.

Awal bulan dalam kalender Hijriyah ditandai dengan penampakan hilal, yakni bulan sabit pertama setelah konjungsi yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Dengan demikian, satu bulan dalam penanggalan Hijriyah dihitung mulai dari penampakan hilal sampai penampakan hilal berikutnya. Ini merupakan ketetapan yang tidak bisa diubah lagi, sebagaimana telah digariskan Rasulullah SAW dalam al Hadits yang telah dijelaskan di atas.

Hilal sebenarnya ialah bagian siang permukaan Bulan yang paling awal yang dapat dilihat setelah berlalu Ijtimak. Hilal hanya dapat kelihatan selepas Matahari terbenam, ini disebabkan karena dekatnya jarak-sudut Bulan-Matahari ini. Hilal akan terbenam beberapa saat setelah Matahari terbenam. Penting untuk diketahui bahwa pantulan cahaya Matahari pada permukaan Bulan sabit (hilal) sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari dan oleh karena tipisnya cahaya Bulan sabit hilal itu maka diperlukan latar yang gelap untuk bisa mengamati penampakan hilal. Biasanya selepas beberapa menit Matahari terbenam dan langit menjadi semakin gelap itulah hilal baru dapat dilihat. Selepas setelah itu Bulan akan terbenam menyusul Matahari.

Cahaya hilal yang demikian lemah tadi teramat sulit untuk untuk diamati ketika umur Bulan sangat muda. Semakin muda usia Bulan semakin dekat ia dengan Matahari; sebaliknya makin tua usianya, Bulan akan makin menjauhi Matahari. Pada hilal yang sangat muda, beda azimut antara Bulan dan Matahari amat kecil (akibatnya jarak sudut antara keduanya pun kecil) demikian pula dengan luas hilal yang memantulkan sinar Matahari. Dari pemahaman ini, jelaslah bahwa mengamati hilal bukanlah pekerjaan yang ringan, sebab meskipun hilal berada di atas ufuk saat Matahari terbenam, namun belum tentu hilal bisa diamati. Persoalan mulai muncul pada usia hilal yang muda, karena makin dekatnya kedudukan Bulan dengan matahari, sehingga tidak ada cukup waktu untuk menunggu senja meredup agar hilal bisa teramati. Dengan kata lain hilal terburu terbenam saat langit masih cukup terang. Sebenarnya dengan makin meningkatnya usia hilal, kesulitan di atas dengan sendirinya akan teratasi sebab pada saat itu beda azimut Bulan-Matahari sudah membesar sehingga pengamat punya cukup waktu untuk menyaksikan hilal di atas ufuk setelah Matahari terbenam maupun menunggu redupnya senja. (Itulah sebabnya perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Syawwal tidak terjadi sepanjang tahun)

Kesulitan itu semakin bertambah dengan adanya debu-debu dan molekul uap air di dekat horison yang dapat membiaskan cahaya hilal, mengurangi cahaya itu sampai dengan 40% dari yang seharusnya sampai ke mata pengamat. Pada usia Bulan yang amat muda bahkan redupnya cahaya hilal itu bisa habis di tengah jalan sebelum sampai ke mata pengamat di Bumi. Karena kenyataan ini jugalah tempat yang lebih tinggi, meskipun mempunyai medan pandang yang lebih luas dan dalam ke horison, bisa jadi kurang menguntungkan sebab makin besar serapan cahaya hilal oleh horison bila dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah. Dengan memperhatikan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, para ahli kemudian membuat kriteria kenampakan (visibilitas) hilal, suatu kriteria yang bisa dihitung (di-hisab), pada titik mana hilal biasanya bisa dilihat.

Sebenarnya dalam pelaksanaan sholat, kita tidak lagi merukyat bayang-bayang Matahari, tapi cukup dengan melihat jam tangan kita dengan membandingkan pada jadwal waktu sholat yang merupakan hasil hisab. Padahal pada mulanya (pada masa Rasullulah SAW), waktu sholat itu ditentukan dengan merukyat efek cahaya Matahari, baik dengan mengamati bayang-bayang sebuah benda yang tersinari Matahari, maupun pada lembayung di langit, seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi (silakan diperiksa sendiri).

Bagaimana dengan Muhammadiyah ?

Hisab secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’. Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan Bulan terhadap Bumi. Pentingnya penentuan posisi Matahari disebabkan karena umat Islam dalam menjalankan ibadah shalatnya menggunakan posisi Matahari sebagai patokannya. Sedangkan penentuan posisi bulan digunakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzul-Hijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzul-Hijjah) dan ber-Idul Adha (10 Dzul-Hijjah). Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda astronomis (khususnya Matahari dan Bulan) maka dikalangan umat Islam dan begitu pula dengan peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap ilmu astronomi (disebut ilmu falak). Salah satu astronom Muslim ternama yang telah mengembangkan metode Hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dan akurat. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum melakukan rukyat (pengamatan). Salah satu output hisab adalah penentuan kapan waktu ijtimak yaitu saat Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam posisi sebidang, atau disebut pula konjungsi geosentris, yakni peristiwa dimana Matahari dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari Bumi. Ijtimak (dari bulan baru ke bulan baru berikutnya) terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: (1) telah terjadi konjungsi atau ijtimak, (2) ijtimak itu terjadi sebelum Matahari terbenam, dan (3) pada saat Matahari terbenam, posisi Bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut:

Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan Bulan beredar menurut perhitungan.” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa Matahari dan Bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan/semangat untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahi bilangan tahun dan perhitungan waktu: “Dan Dia-lah yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesarannya bagi orang-orang yang mengetahui.”

Kedua, jika spirit Al Qur’an adalah hisab, lalu mengapa Rasulullah SAW menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi SAW adalah ummat yang ummi, yang tidak kenal baca tulis, dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan sendiri oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari.” Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (atau sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qardawi menyebutkan bahwa rukyat bukan menjadi tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qardawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang yang mengetahui hisab.

Ketiga, dengan (hanya menggunakan) rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1 (sehari sebelumnya). Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar Islam bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik. (dan kenyataan ini terjadi sampai hari ini!)

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas “pertama” tidak akan mampu mengcover seluruh muka Bumi, karena bisa saja terjadi bahwa pada hari yang sama, ada muka Bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka Bumi lain yang tidak dapat merukyat (melihat Hilal).  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal (posisi Jepang adalah 25 derajat sampai 45 derajat lintang utara), di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika Bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran Artik dan lingkaran Antartika yang siang pada musim panas bisa melebihi 24 jam dan malam pada musim dingin pun bisa melebihi 24 jam.

Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Ulama pada zaman perTengahan menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat dan jelas bahwa pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat Bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat Bumi itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian sistem waktu Islam di dunia internasional sekarang ini muncul seruan agar kita memegangi hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam salah satu kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir alKhittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.

Namun demikian, kita sebagai sesama Muslim wajib mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan. Demikian wallahu alam.

 

Sumber tulisan (ditulis ulang dengan perubahan):

http://answering.wordpress.com/2009/09/15/mengenal-tentang-hisab-dan-rukyat/

http://immugm.web.id/2010/08/16/mengapa-muhammadiyah-memakai-hisab/

http://www.dataphone.se/~ahmad/Hilal2_2.htm

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/

http://rumahkuhijabku.multiply.com/journal/item/75

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s