Pelajaran Budi Pekerti

Tujuan dari pendidikan budi pekerti itu sendiri ialah membina dan membangun kejiwaan serta keadaan seorang anak, sehingga anak tidak akan terpengaruh oleh lingkungan atau pergaulan yang merugikan dan kalaupun mereka masih juga salah pilih, maka setidaktidaknya mereka sudah dapat berfikir secara bertanggung jawab dan di dalam diri mereka sudah terbentuk suatu pundamen moral yang baik sebagaimana yang diharapkan.

Pelajaran "budi pekerti" pernah diberikan disekolah hingga tahun 1970-an, kmd pelajaran itu dihilangkan dan disisipkan dengan mata pelajaran lain. Menurut pendapat Dedi Supriadi (2004:168), "Bahwa pendidikan budi pekerti baik sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri maupun digandengkan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama dapat dikatakan telah ditinggalkan sejak diterapkannya kurikulum 1968". Selama kurun waktu tersebut, pendidikan budi pekerti disisipkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama, PMP dan PPKn.

Namanya juga disisipkan, maka materi budi pekerti tidak menjadi primadona dalam kurikulum pendidikan. "Pendidikan budi pekerti pertama kali diperkenalkan dalam kurikulum 1947 sebagai salah satu dari 16 mata pelajaran SD yang berdiri sendiri dan terpisah dari Pendidikan Agama. Pada tingkat SLTP, pendidikan budi pekerti telah muncul dalam kurikulum 1962 dengan nama "Budi Pekerti" yang sekaligus merupakan salah satu dari 9 kelompok mata pelajaran yang terpisah dari mata pelajaran Agama. Sedangkan tingkat SLTA, pendidikan budi pekerti tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang penting untuk diajarkan. Hal ini tampak dari tidak pernah tercantumnya budi pekerti dalam kurikulum SLTA, dengan asumsi bahwa ditingkat SLTA muatan pendidikan lebih banyak diarahkan pada pengembangan kemampuan akademik untuk bekal studi lanjut atau keterampilan produktif untuk hidup ditengah masyarakat". (Dedi Supriadi, 2004:162-168)

"Pemunculan kembali wacana pendidikan yang berkarakter", disadari dipicu oleh setidaknya perilaku moral serta budi pekerti dari mulai para politikus, penyelenggara negara, hingga ke tingkat pelajar atau remaja saat ini yang sangat memprihatinkan. Tingkah laku dari sebagian kecil mereka ini sudah jarang mencerminkan sebagai seorang pribadi Indonesia yang (dicita-citakan) luhur (oleh nenek moyang dahulu). Mereka cenderung bertutur kata yang kurang baik, terkadang juga bertingkah laku tidak sopan, berkomentar yang tidak konsisten, dan tidak lagi menghargai terhadap guru-guru mereka. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh kondusif tidaknya pendidikan budi pekerti yang mereka dapatkan, baik dari lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Saya sendiri menyaksikan dari media televisi maupun cetak, dari mulai karus korupsi anggaran, pengambilan kebijakan, bahkan dalam pemberian teladan bagi masyarakat. Mereka yang mengerti hukum/aturan justru menggunakan hukum/aturan itu untuk melindungi kepentingan pribadi/kelompok, … dan sekali lagi hanya menyandarkan kebenaran pada sisi aturan formal. Bagaimana dg pelajar/mahasiswa? Sudah menjadi ritual bulanan (maaf), kalo di Jakarta dan hampir kota-kota besar di Indonesia, untuk melestarikan "tawuran" atau berkelahi antara mereka sendiri untuk alasan yang tidak akademik. Sama sekali tidak ada keterlibatan "budi pekerti" disini … apalagi agama, terlebih lagi "hati".

Kembali kepada "pemunculan wacana pendidikan budi pekerti", jikalau kita mau melihat ke belakang. Para politisi, penyelenggara negara, atau anggota DPR yang sekarang aktif tersebut, adalah merupakan outcome dari pendidikan di kisaran tahun 1950 -1970. Seperti yang dikutip pada paragraf pertama sampai ketiga diatas, sepertinya masih ada yg "salah" dari konsep budi pekerti yang diajarkan dimasa lalu. Apabila masyarakat saat ini ingin memunculkan kembali pendidikan budi pekerti dengan mereferensikan pada kondisi masa lalu, saya khawatir bahwa kita hanya akan mengulangi sejarah kegagalan. Memang sejarah akan selalu berulang. Mengingat sejarah bukan bertujuan untuk mengungkit kesalahan masa lalu, tetapi sebagai panduan dan juga peringatan untuk mereka yang masih hidup saat ini kerana para pelaku sejarah itu datang dan pergi, tetapi watak yang diwarisi tetap seirama.

Sebagai seorang pendidik, saya merasa keadaan saat ini sangatlah memprihatinkan. Masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai  masyarakat yang beragama, beradab dan bebudaya, begitu disayangkan jika melihat fakta bahwa kita semua di"sandera", di"ciderai" dengan merebaknya kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di berbagai lembaga, baik lembaga pemerintah maupun swasta, krisis kepercayaan dan sebagainya. Kebenaran dan nilai hukum yang berusaha ditegakkan oleh pemerintah/lembaga negara, terlihat sia-sia ditengah masyarakat yang sudah apriori dan pesimis dengan realita yang setiap hari mereka hadapi. Hal ini membuktikan tentang rendahnya moralitas penyelenggara negara (saat ini) yang menunjukan  kurang terserapnya pendidikan budi pekerti (dimasa lalu). 

Lembaga pendidikan sebagai benteng lembaga formal diharapkan mampu mentransfer berbagai disiplin ilmu, budi pekerti dan keahlian. Sekolah, universitas, dan pendidikan tinggi sebagai lembaga pendidikan sangat diharapkan selain dapat menciptakan manusia yang menguasai iptek juga manusia yang memiliki imtak, yaitu manusia yang unggul secara intelektualitas, sosialitas dan keimanan.

Mampukah lembaga pendidikan kita ???

Kenyataan bahwa di Indonesia ini, selain kita harus berusaha, terbukti do’a juga memegang peran penting. Mengapa? Karena begitu banyak faktor "tidak jelas" yang ada di depan sana.

Salam,

 

Ref,
Dedi Supriadi, "Membangun Bangsa Melalui Pendidikan", Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Cucu Lisnawati, "Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah-sekolah", http://educare.e-fkipunla.net/, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s