Berkebun bersama Ibu Asa…

Sabtu, 8 Agustus 2009, adalah hari dimana aku belajar Nihongo bersama Ibu Asa. Beliau adalah anggota Saga Volunteer Association, sebuah organisasi nirlaba di Saga yang bertujuan mengembangkan dan membantu mengenalkan kebudayaan Jepang kepada warga/mahasiswa asing. Memang, misi organisasi ini bagus sekali, dan mereka mendanai sendiri kegiatannya.

DSC_0004Ada yang sedikit berbeda pada Sabtu itu, karena selain belajar Nihongo, aku diminta membantu Ibu Asa membenahi kebunnya. Sebenarnya bukan berkebun beneran, cuma beres-beres halaman dan merawat tanaman.

Berikut sebelah kiri adalah potret kebun Ibu Asa. Ya…kebun bergaya Jepang, dengan tanaman bunga dan batu besar sebagai pusatnya. Luasnya sekitar 5 m x 3 m. Disekitar batu besar itu dihamparkan kerikil kecil dengan rapi. Kebun ini sudah lama dibangun, mungkin sudah ada 15 tahun. Desain kebun ini adalah kering, jadi tidak ada aliran air buatan atau air mancur. Bunga-bunga Jepang mendominasi, seperti momiji, plum, dan … lainnya (lupa aku namanya…).

 

 

Aku datang sekitar jam 9 pagi. Membenahi kebun yang diminta Ibu Asa adalah memindahkan salah satu bunga. Pohon bunga plum adalah bunga favorit IDSC_0002bu Asa. Sayangnya, posisi bunga itu tertutup oleh batu besar itu, jika dilihat dari depan (sama seperti posisi foto diatas). Nah, bunga plum itu ingin dipindahkan ke samping kiri batu besar, sehingga pada musim berbunga nanti, Ibu Asa bisa memandangnya sambil bersantai di teras depan. Sementara pada posisi sekarang (disebelah kiri batu besar) tumbuh pohon bunga lain yang kurang disukai Ibu Asa, dan katanya minta dibuang saja. Ehm … ada-ada saja nenek Jepang yang satu ini!!

OK!! Jadi ada 2 pekerjaan, pertama membuang (pohon) bunga yang ada di sebelah kiri batu besar, dan kedua memindahkan (pohon) bunga plum dari belakang batu besar menjadi ke sebelah kiri batu besar. Langkah pertama sukses meskipun dengan cucuran keringat banyak. Maklum, saat ini musim panas di Saga dan karena kelembaban cukup tinggi, maka hawa terasa begitu panas (sumuk, dalam bahasa Jawa). Lihat betapa aku bekerja…(foto kiri)!!!

DSC_0001Ibu Asa juga tidak tinggal diam. Meskipun umurnya sudah tua, beliau ini sangat energik. Masih “kenes” bahkan dalam pandangan saya! Sebenarnya, sebelumnya Ibu Asa sudah mencoba sendiri untuk mengerjakan kebun ini, namun karena tidak mampu mengangkat (pohon) bunga, terpaksa aku diminta membantunya. Dan benar, memang cukup berat (pohon) bunga satu ini.

 

 

 

 

Tahap berikutnya adalah memindahkan (pohon) bunga plum menjadi ke sisi sebelah kiri batu besar. Mungkin karena aku sudah lama tidak memegang cangkul, DSC_0003waduh . . . berat bangat! Beberapa kali harus tarik napas dulu dan istirahat. Selain panas, napas juga perlu diatur bro . . .! Support minum sih selalu tersedia, full malah. Ada juz, air putih, dan teh manis. Jadi tetap semangat!

Setelah berusaha, akhirnya bisa juga deh (pohon) bunga plum dipindahkan.  Tuh . . . aku sedang mengangkat (pohon) bunga plum ke tempat yang baru. Lumayan berat! Tapi senang bahwa aku bisa membantu orang lain. Insya Allah mendapat balasan yang lebih baik pada waktu yang lain. Amin.

Selesai berkebun, aku bersiap mandi. Wah . . . kamar mandi dirumah Ibu Asa bagus bangat dan modern (dalam penilaian saya). Semuanya serba elektrik dan otomatis. Mau air panas, air hangat, atur aliran air . . . semuanya tinggal pencet saja. Maybe She want to enjoy her life during rest of her living time! (I think) Tentang kebersihan, jangan ditanya . . . tidak terlihat ada debu didalam rumah.

Sebenarnya, dalam acara semula, setelah berkebun dilanjutkan dengan belajar Nihongo. Namun, karena kami lapar sekali, jadinya memasak dulu. Ada pilihan yang sudah dipersiapkan Ibu Asa, tempura atau udong. Kayaknya tempura lebih pas deh! Jadinya  . . . ya masak tempura. Mau tahu dapurnya kayak apa?, ndak beda jauh dengan kamar mandi, yang juga serba elektrik dan otomatis. Ibu Asa tidak mau menggunakan gas untuk api memasak, . . . takut kebakaran katanya. Padahal sih, menurutku dengan standar Jepang yang sudah aman itu, kecil rasanya ada kebakaran karena gas memasak. Ya, . . . that’s her! Style beliau memang beda!

Akhirnya, pada Sabtu itu, belajar Nihongo dibatalkan dulu. Kami berdua banyak ngobrol ini itu sambil makan sampai jam 14.00. Wah . . . pengalaman unik nih di Saga!

Ditunggu sampai minggu depan untuk melihat apakah (pohon) bunga yang dipindahkan tetap tumbuh dilokasi yang baru.

Enjoy!

 

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s