Mengingat Bapak

Kutulis kembali saat kangen dengan Bapak. Pada hari Jumat kemarin, 31 Juli 2009, Bapak mengunjungi Nata di Pamulang. Sebenarnya, sudah sejak Kamis, 23 Juli 2009, Bapak berangkat dari Klaten, namun tidak langsung ke Pamulang. Bapak menyempatkan terlebih dahulu menengok Lik Sumini di Purwakarta dan mas Widhi di Tangerang. Tadi malam, Bapak baru sampai di Pamulang. Tulisan ini aku buat saat Bapak sudah tidur (mungkin) malam tanggal 1 Agustus 2009.

Saga University 1 Agustus 2009

Ya Allah, ijinkan aku bisa masuk pintu tengah syurgaMu, amiin!!
Seburuk apapun Bapak, janganlah sekali-kali lupa pada kebaikan mereka semasa kita masih mampu mengingatnya. Kebaikan yang mungkin tidak pernah dianggap kebaikan olehku karena berlangsungnya tanpa dikenang.

Aku ada banyak kawan, tetapi hanya ada seorang Ibu dan seorang Bapak. Busuk wangi, buruk dan baik, itulah Ibu dan itulah Bapak.

Usia Bapak memang terpaut jauh dengan Ibuku. 10 tahun! Ya bapak lebih tua 10 tahun dari Ibuku. Namun fisik beliau masih cukup kuat dan raut wajahnya masih nampak segar dibandingkan dengan tetangga-tetangga kami yang seusia dengan beliau. Mungkin karena pola kebiasaan bangun pagi dan bersepeda yang biasa Bapak lakukan sejak muda itulah yang membuatnya masih nampak segar di usia senja.

Aku jadi teringat masa-masa kecil dahulu. Sering aku dibuat takut oleh pola asuh Bapak yang tegas, galak dan taat aturan. Pada saat itu sering aku merasa kesal dan takut. Lain dengan Ibuku, disana ada rasa aman dan perhatian yang dalam. Sifat Ibu itulah yang menjadi penyeimbang dan pelengkap sifat-sifat Bapak.

Kini aku menyadari bahwa ternyata pola asuh yang ditanamkan Bapak kepadaku (dan kepada kami empat bersaudara), nyatalah sangat berguna, terutama aku, yang dilihat mampu mendidik adik-adik. Bapak mendidikku seperti itu agar aku tidak manja, bergantung, malas, masa bodoh, dan acuh. Melainkan beliau ingin menanamkan sifat mandiri, bertanggung jawab, tegar dalam menghadapi masalah, disiplin, konsisten dan qonaah. Qonaah….? Ya qonaah adalah suatu sikap berserah diri dan menerima apa adanya setiap pemberian dari Allah.

Bapak sendiri yang mencontohkan langsung kepadaku. Betapa selama hampir 6 tahun, Bapak merawat embah kakung dan embah putri di usia senjanya, dan juga embah kakung dari ibu.

Aku jadi ingat waktu masih kecil dulu. Bapak selalu menuruti semua permintaanku. Mulai dari sepeda motor, komputer, buku-buku yang begitu banyak, dan masih banyak lagi. Aku selalu kagum dengan cerita Bapak tentang bagaimana Bapak dulu berjuang dari seorang anak desa yg bernama desa Trotok di Klaten sana hingga menjadi orang berkecukupan untuk ukuran orang-orang di kampung Bapak. Bapak tidak malu mengakui kalo Bapak pernah menjadi kuli, bahkan bersekolah dengan biaya sendiri karena embah tidak mampu membiayai sekolah Bapak. Bapak merangkak dari titik nol untuk menggapai semua cita-cita Bapak. Salut saya Pak…..!!!

Aku selalu ingat bagaimana gigihnya Bapak mengajariku baca tulis. Mendudukkanku diatas meja. Bapak pulalah yang menyuruh kami menempel rumus matematika di kamar tidur. Sebelum beranjak meninggalkan tempat tidur, Bapak meminta kami mengingat kembali pelajaran semalam. Bapak juga kerap membangunkan aku dan adik-adik di subuh dini hari. Begitulah cara unik Bapak mendidik kami.

Aku ingat Bapak begitu bersemangat menyuruh aku (dan kami bersaudara) bersekolah setinggi-tingginya dan itu hanya karena Bapak merasa aku tidak boleh merasakan susah seperti yg Bapak alami. Aku juga ingat bagaimana perjuangan Bapak yang mati-matian berusaha menyekolahkan kami ke Universitas karena Bapak sangat ingin kami bisa kuliah (salah satu keinginan Bapak dulu yang tidak kesampaian)….Satu persatu dari kami akhirnya meninggalkan Bapak untuk melanjutkan pendidikan kami di kota. Satu pesan Bapak yang selalu aku ingat, “Bapak tak memiliki harta peninggalan untuk diwariskan kepada kalian, Bapak hanya mewariskan pendidikan. Bagaimana kalian pintar-pintarnya mengolah ‘warisan’ itu sehingga mampu menopang hidup kalian kelak.” Satu lagi syarat Bapak yang tidak bisa ditawar. ‘Warisan’ itu hanya bisa diberikan jika kami bisa masuk PTN. Bapak hanya mau membiayai kuliah jika kami lulus PTN, tentunya dengan pertimbangan biaya ketika itu, selain itu PTN juga membutuhkan ‘perjuangan’ untuk bisa masuk. Bapak selalu menekankan bahwa segala sesuatunya harus bisa diperjuangkan, rejeki tidak akan sebegitu mudahnya jatuh dari langit, harus ada keringat mengikutinya. Alhamdulillah satu-persatu anak-anak Bapak diterima di PTN dan lulus. Dari kami ber-empat, tinggal si Bungsu (Ismawardi) yang masih menyelesaikan kuliahnya di FK-UNS Solo.

Terimakasih Bapak!

Saya kagum dengan kepintaran Bapak, untuk ukuran anak desa, Bapak memang luar biasa, bahkan banyak "pejabat-pejabat" di tempat Bapak bekerja dulu mengakui kecemerlangan otak Bapak, orang-orang yg dulu belum menjadi “siapa-siapa”, banyak dari mereka sekarang telah menjelma menjadi “siapa-siapa” atas pengajaran Bapak. Alhamdulillah mereka masih amat menghargai dan menghormati Bapak, bahkan yang membuat saya terharu, beberapa dari mereka membantu saya ketika mengetahui bahwa saya adalah anak Bapak. Sekali lagi terimakasih Pak!

Oh iya, aku ingat lagu favorit Bapak adalah campur sari. Aku tidak tahu banyak tentang campur sari, yang aku tahu Bapak menjadi anggota grup campur sari di kampung. Bapak pegang ukelele dan kadang-kadang juga menyanyi. Suara Bapak bagus, saya sendiri pernah melihat langsung di acara perkawinannya Riri. Benar-benar mencerminkan pria Jawa sejati. Dulu, waktu aku masih SMA, hampir tiap malam, bapak berlatih menyanyi dirumah. Walaupun banyak yang ‘ngrasani’ mendengar suara Bapak, namun tetap saja terus…..Bapak,….Bapak…..!

Terkadang aku sering merenung, betapa banyak teman-teman seusiaku yang tidak lagi dapat memelihara dan menjaga Bapaknya karena telah dipanggil Yang Kuasa, betapa banyak orang-orang di luar sana yang memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan Bapaknya dan betapa banyak dari mereka bahkan telah mengabaikan orang tuanya.

Alhamdulillah aku masih bisa mendapati mereka hingga detik ini. Aku harus memperlakukan mereka dengan baik. Aku ingin meraih surga melalui ridho orang tua. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda:

“Aku heran kepada orang yang sempat mengalami kehidupan orang tuanya dalam usia lanjut, tetapi dia tidak masuk surga.” (Riwayat dari Hadist Shahih).

Hadist inilah yang membuatku semakin gigih menggapai surga dengan berbakti pada orang tua, menyenangkan hatinya, membahagiakan dan memelihara mereka secara total. Pada akhirnya aku bisa bilang terimakasih untuk semuanya Pak, "I’m proud of being your son".

Pernah suatu ketika, seorang lelaki datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, memberitahukannya bahwa ibu lelaki itu menyuruhnya mentalakkan sang isteri. Lalu Abu Darda’ berkata, aku telah mendengar bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
"Ibu bapak adalah pintu Syurga yang paling tengah. Terserahlah kepada kamu apakah mau mensia-siakan pintu itu atau memeliharanya." (Hadist shahih riwayat Ahmad, al-Tarmidhi dan Ibn Majah)

Walaupun sandaran dalil Abu Darda’ terhadap persoalan lelaki tersebut kepada hadits ini masih memiliki perdebatan diantara ulama, namun persoalan yang terus kekal; Allah swt menyediakan pintu syurga bukan di tangan kawan yang paling akrab, ataupun kekasih yang sejati. Pintu masuk ke syurga yang paling utama, adalah pada memenuhi hubungan kita dengan Ibu, juga dengan Bapak.

(Allahummaghfirlii wa lii walidayya warhamhummaa kamaa robbayaani soghiiro…amiin)

 

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s