Wayang … Sekali Lagi Wayang!

Membicarakan soal wayang, rasanya tidak ada habis-habisnya. Ya , karena wayang sangat menarik dan semakin kita pelajari semakin banyak hal yang ingin kita pelajari. Dari bentuk wayang, sunggingannya, ceritanya, pagelarannya . . . semuanya menarik! Jenis wayang meliputi wayang kulit, wayang golek, wayang orang, wayang gedog, wayang suluh, wayang suket, wayang potehi, wayang beber, wayang kancil, dan sebagainya. Wayang mengambil cerita dari Ramayana dan Mahabarata, kisah Amir Ambyah, kisah Panji Inu Kertapati dan sebagainya.

Wayang Dalam pagelaran wayang kulit yang mengambil lakon Ramayana atau Mahabarata biasanya disebut wayang purwa. Kita telah mengenal banyak kisah wayang yang ada dalam Mahabarata dan Ramayana, tetapi kita juga mengenal banyak kisah wayang yang diciptakan oleh para pujangga dan seniman-seniman besar kita diluar wayang yang ada didalam pakem Mahabarata dan Ramayana. Hal tersebut terjadi mulai zaman raja-raja Kediri, yaitu pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yang pada waktu itu terdapat pujangga besar Empu Kanwa menyusun kakawin Arjuna Wiwaha, dan pada masa pemerintahan Raja Jayabhaya, dengan pujangga Empu Sedah dan Empu Panuluh berhasil menterjemahkan Kisah Barata Yudha dari “bahasa aslinya” ke bahasa sehari-hari pada waku itu. Empu Panuluh juga menyusun cerita Gatutkaca sraya dan Hariwangsa. Sampai dengan sekarang seniman-seniman pewayangan kita selalu kreatif menciptakan banyak cerita wayang yang menarik. Bentuk wayang (wayang pupet) diluar Ramayana dan Mahabarata juga banyak diciptakan, seperti misalnya Antasena, Antareja, Cakil, Panakawan (Semar, Gareng, Peruk dan Bagong, juga Togog dan Bilung, serta ada lagi Cangik – Limbuk, serta anak-anak Arjuna karena Arjuna menurut cerita beristri banyak, semisal Bambang Priambada, Krena Malang Dewa, Wisanggeni, Pergiwa-Pergiwati, serta menantunya Dewi Mustakaweni). Sebelum memasuki cerita Mahabarata dan Ramayana, wayang diawali dengan cerita dewa-dewa. Untuk Ramayana sendiri diawali dengan cerita Arjuna Sasrabahu dan Rama Bargawa. Kelihatannya cerita Arjuna Sasrabahu ini terlepas dari Ramayana. Sedangkan Mahabarata diawali dengan kisah Shakuntala.

Banyak cerita atau lakon diluar pakem dalam kisah Mahabarata maupun Ramayana yang disebut lakon carangan. Kebanyakan cerita carangan ini diambil dari Mahabarata. Kisah kisah tersebut menjadi tontonan sangat menarik misalnya cerita atau lakon

  1. Pergiwa Pergiwati (Pergiwa Pergiwati Mencari Ayahnya)
  2. Kresna Malang Dewa
  3. Wisanggeni Takon Bopo (Wisanggeni Mencari Ayahnya)
  4. Kresna Sekar
  5. Semar mbarang jantur
  6. Peksi Dewata
  7. Setyaki Lahir
  8. Srikandi Meguru Manah (Srikandi Belajar Memanah)
  9. Abimanyu Kerem (Abimanyu Tenggelam)
  10. Gatutkaca Krama
  11. Srikandi Edan
  12. Antasena Takon Bopo, dll.

Di Indonesia, terdapat keunikan pada kisah Ramayana dan kisah Mahabarata, yaitu adanya penggabungan kedua cerita besar Ramayana dan Mahabarata. Ramayana dan Mahabarata berbeda pengarangnya, Ramayana dikarang oleh Resi Walmiki dan Mahabarata oleh Resi Wyasa. Namun antara keduanya bisa tersambung dikarenakan adanya cerita-cerita berikut:

  1. Rama Nitis: Adanya Punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) yang semula mengabdi Prabu Rama, menjadi mengabdi pada Pandawa. Demikian pula halnya dengan Anoman (Senapati Kera Putih) yang kemudian mengabdi pada Pandawa.
  2. Kresna yang mendapat istri Dewi Jembawati anak Resi Jembawan salah satu senapati Prabu Rama. Prabu Kresna menjadikan Dewi Jembawati sebagai Permaisuri Prabu Kresna di Dwarawati.

Semuanya berkat kepiawaian para pujangga seni wayang kita yang bisa menciptakan kisah-kisah yang bisa mempersatukan Ramayana dan Mahabarata. Berdasarkan alur cerita, maka cerita wayang bisa diurutkan sebagai berikut :

  1. Kisah Dewa-Dewa
  2. Lahirnya Dasamuka.
  3. Rama Bargawa / Resi Jamadagni
  4. Arjuna Sasrabahu
  5. Ramayana
  6. Mahabarata
  7. Parikesit
  8. Kisah-kisah Panji ((wayang Gedog)

Cerita cerita lucu untuk menghibur penonton pun banyak diciptakan, yaitu dengan menampilkan tokoh-tokoh punakawan (Semar Gareng, Petruk dan Bagon). Kadang-kadang Togog dan Bilung pun ikut menyemarakkan cerita-cerita itu. Cerita-cerita yang dimaksud adalah :

  1. Semar jadi ratu
  2. Petruk jadi ratu
  3. Petruk mantu
  4. Gareng jadi Bathara Guru, dst.

Semuanya itu menambah menambah semaraknya dunia pewayangan dan semakin menarik bagi pecinta-pecinta seni wayang, baik dari dalam maupun luar negeri.

Untuk memudahkan belajar bagi pemula wayang maka saya sampaikan beberapa daftar lakon wayang yang berasal dari pakem Ramayana dan Mahabarata :

Ramayana

  1. Hilangnya Dewi Sinta Mengisahkan perjalanan Rama, Sinta dan Laksmana ke hutan selama dalam pembuangan. Dewi Sinta diculik Prabu Dasamuka yang menyamar sebagai seorang Resi dan membawanya ke negara Alengka.
  2. Anoman Duta Mengisahkan duta Rama seekor Kera Putih bernama Anoman yang menyanggupi perjalanan ke Alengka dalam waktu satu hari, yang sebenarnya harus ditempuh sepuluh hari lamanya. Dalam tugasnya ia ditangkap Indrajid, anak Prabu Dasamuka. Anoman kemudian dibakar hidup-hidup, namun karena kesaktiannya, Anoman tidak terbakar, malah justru istana Alengka-lah yang terbakar. Prabu Dasamuka beserta segenap keluarga serta bala tentaranya mengungsi ke rumah Togog.
  3. Rama Tambak Kedatangan Wibisana yang diusir kakaknya, Prabu Dasamuka, untuk bergabung dengan kerajaan Pancawati. Ia mendapat sambutan baik dari Prabu Rama. Wibisana bersedia membantu Prabu Rama dalam membuat jembatan di Samudra Hindia mulai dari pantai Pancawati sampai ke Alengka. Dalam proses pembuatan jembatan yang dikenal dengan jembatan Situbondo, entah mengapa bangunan yang sudah jadi selalu runtuh. Kesetiaan Wibisana teruji ketika jembatan ciptaannya runtuh juga ketika di coba Anoman. Disaat seperti ini Wibisana bagai teruji kesetiaannya pada Prabu Rama. Beberapa tokoh senapati meminta agar Wibisana diusir saja dari Pancawati, karena bisa saja ada niat Wibisana yang akan menghancurkan Pancawati dari dalam. Namun Prabu Rama percaya kepada Wibisana. Persoalan tersebut oleh Prabu Rama diserahkan pada Wibisana. Ternyata keruntuhan-keruntuhan yang terjadi pada jembatan Situbondo akibat ulah pasukan Prabu Dasamuka. Pada akhirnya jembatan itu bisa diselesaikan dan pasukan kera yang jumlahnya ribuan itu bisa diberangkatkan ke Alengka Diraja.
  4. Prabu Dasamuka Dasamuka Gugur Sesampai di wilayah Alengka, terjadi peperangan antara pasukan Prabu Rama dan pasukan Alengka. Satu demi satu, para tokoh Alengka gugur, mulai dari Dewi Sarpa Kenaka, anak-anak Prabu Dasamuka, kemudian Kumbakarna dan Patih Prahasta pun gugur dimedan laga. Kemudian terjadi perang tanding antara Prabu Rama dan Prabu Dasamuka. Karena Prabu Dasamuka memiliki Aji Pancasona dan Aji Rawarontek, berkali-kali Prabu Dasamuka tewas namun bisa hidup kembali dan tetap melawan prabu Rama. Wibisana memerintahkan Anoman untuk mencabut bukit. Pada satu kesempatan, Prabu Rama kembali berhasil membunuh Prabu Dasamuka dengan Pusaka  yang bernama Goa Wijaya. Sebelum jasadnya sempat hidup lagi, Anoman cepat-cepat menjatuhkan bukit yang dicabutnya ke tubuh Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka terkubur dalam bukit. Diceritakan bahwa Prabu Dasamuka hingga sekarang masih hidup didalam bukit yang menimbunnya.
  5. Sinta Obong Mengisahkan saat Prabu Rama memasuki istana Alengka, bertemu dengan istrinya, Dewi Sinta yang didampingi Dewi Trijata, anak Wibisana, yang nampak berbahagia dan berpakaian rapi saat menemuinya. Prabu Rama curiga dan menuduh Dewi Sinta telah berbuat nista dengan Prabu Dasamuka. Untuk membuktikan kesuciannya, Dewi Sinta bersumpah akan membakar dirinya, ia akan melakukan pati obong. Dewi Sinta meloncat kedalam api. Ternyata api tidak membakarnya. Karena Dewi Sinta masih suci. Dewi Sinta pun ditolong Bathara Brahma.

Mahabarata

  1. Bale Sigologolo Upaya Kurawa melenyapkan Pandawa tidak pernah berhenti. Untuk melaksanakan niat mereka didirikanlah bangunan dari kayu yang mudah terbakar. Tempat itu dikenal dengan nama Bale Sigolo-goloyang, yaitu tempat berkumpulnya Para Pandawa dan Kurawa untuk saling mempererat persaudaran. Dalam pertemuan itu, para Pandawa disuguhi minuman tuak, minuman yang memabukkan. Kurawa memperkirakan Pandawa dan Ibu Kunti sudah mabuk. Para Kurawa segera meninggalkan Bale Sigolo-golo dan lalu membakar tempat pertemuan itu. Balai Sigolo-golo pun terbakar. Para Kurawa mengira Pandawa sudah tewas. Namun, yang sebenarnya adalah Pandawa masih hidup dan berhasil meloloskan diri dengan memasuki liang seekor rase. Dalam kisah ini Werkudara mendapat isteri Dewi Nagagini anak dari Naga Antaboga.
  2. Bimasena Babat Wanamarta Dengan kembalinya Pandawa ke Astina maka Resi Bisma membagi Astina menjadi dua bagian. Pandawa mendapatkan tanah di Kandawa Prasta. Dalam versi lain, Pandawa tidak kembali ke Astina, tetapi pergi ke Wirata. Oleh Prabu Matswapati, Pandawa mendapatkan tanah Wanamarta. Dalam pembangunan istana, Pandawa dibantu para Gandarwa yang bernama Jim Puntadewa, Jim Werkudara, Jim Kumbangali-ali, Jim Nakula dan Jim Sadewa, sehingga bangunan istana cepat selesai. Pandawa menamakan negerinya menjadi negeri Indraprasta atau Amartapura. Dalam pembuatan istana ini terdapat kisah Bima mendapatkan istri Dewi Arimbi, adik Prabu Arimba, raja Pringgadani yang nantinya melahirkan Gatotkaca.
  3. Pandawa Dadu Setelah Pandawa membangun istana, banyak orang-orang Astina yang pindah ke negeri baru yang bernama Amarta atau Indraprasta. Rakyat makmur, pertanian maju, perdagangan lancar, murah sandang pangan. Para Kurawa iri hati, kemudian mengajak Pandawa main dadu. Dengan kecurangan Patih Sengkuni maka Pandawa dikalahkan, bahkan sampai negara dan istri Prabu Puntadewa tergadai dalam permainan judi tersebut. Pandawa harus pergi ke hutan selama dua belas tahun dan menyamar selama satu tahun. Dan tidak boleh ketahuan para Kurawa, kalau sampai ketahuan, pandawa harus mengulang hukuman buang tersebut.
  4. Pandawa Ngenger Mengisahkan setelah selesai hukuman buang dihutan, maka Pandawa memasuki hukuman penyamaran. Para Pandawa dengan menyamar sebagai orang desa memasuki istana Wirata dimana Prabu Matswapati bertahta. Pandawa diterima menjadi abdi kerajaan Wirata. Puntadewa menyamar menjadi Brahmana dengan nama Kangka dan bertugas sebagai penasehat Prabu Matswapati. Bima menjadi Abilawa ditugaskan sebagai jagal. Arjuna menjadi Kandi Wrehatnala bertugas sebagai guru tari di keputren Wirata. Sedangkan Nakula menjadi Darmaganti dan bertugas menyiapkan kuda-kuda yang akan ditunggangi para Pangeran Wirata. Terakhir, Sadewa menjadi Tantripala mendapat tugas mengembala ternak sapi. Dewi Drupati istri Puntadewa menyamar menjadi Nyai Salindri dan mendapat tugas sebagai juru masak istana. Pada saat selesainya hukuman penyamaran tersebut. Kerajaan Wirata mendapat serangan dari pasukan Prabu Susarma dari Kerajaan Trigarta dengan dukungan pasukan Astina. Dalam pertempuran pertama, pasukan Wirata dapat diundurkan dari medan laga. Melihat keadaan itu, Kandhi Wrehatnala seorang kandhi yang semula mendapat tugas menjadi kusir Raden Wratsangka maju dalam peperangan, mendadak ia minta berganti posisi dengan Raden Wratsangka. Kandhi Wrehatnala menjadi Senapati perang dan Raden Wratsangka menjadi kusir Kandhi Wrehatnala. Akhirnya Kandhi Wrehatnala bisa mengalahkan Pasukan Trigarta dan Astina.
  5. Kresna Duta Prabu Matswapati telah mengetahui panyamaran Pandawa. Keadaan semakin memanas karena Kurawa menuduh Pandawa harus menjalani hukuman buang lagi karena ketahuan keberadaannya di istana Wirata. Padahal sesuai perhitungan waktu, Pandawa telah mengakhiri hukuman buang. Prabu Kresna bertindak bijaksana, ia ke Astinapura dengan kereta dan Patih Setyaki menjadi saisnya. Prabu Kresna merundingkan kembalinya kerajaan Amarta kepada Pandawa yang merupakan sebagian kerajaan Astina yang menjadi hak Pandawa. Prabu Suyudana bersikukuh tidak mau menyerahkan kerajaan Amartapura yang menjadi hak Pandawa. Perundingan gagal, Kresna meninggalkan persidangan dan mencari Dewi Kunti, ibu Pandawa, di Kaputren untuk diajak berkumpul dengan anak-anaknya di Wirata. Dewi Kunti tidak bersedia mengikuti ajakan Prabu Kresna. Sementara itu para Kurawa telah mengepung Prabu Kresna. Prabu Kresna terdesak dan marah. Akhirnya berubah menjadi raksasa sebesar anak gunung, Prabu Kresna berhasil keluar dari istana Astina dan pulang menuju kerajaan Wirata. Di tengah perjalanan, kereta Prabu Kresna dihentikan Bathara Narada dan para dewa. Bathara Narada melucuti senjata Prabu Kresna berupa senjata cakra dan pusaka Wijaya Kusuma. Sesampai di Wirata, Prabu Kresna dikejutkan isakan tangis Arjuna dan saudara-saudaranya sehubungan dengan gugurnya Bambang Irawan, anak Arjuna dengan Dewi Ulupati, cucu Begawan Naga Korawa. Bambang Irawan tewas dalam perjalanan menuju Wirata. Ia dihadang raksasa bernama Prabu Kala Trembaga. Kemudian terjadi perkelahian yang mengakibatkan Bambang Irawan tewas. Namun Prabu Kresna kini tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak sanggup menghidupkan lagi Bambang Irawan dari kematian karena pusaka Wijaya Kusuma sudah diambil dewa. Bambang Irawan tidak bisa ditolong. Setelah acara perabuan selesai, Prabu Kresna menyarankan Prabu Puntadewa untuk mencari bantuan pasukan dari negeri sahabat. Prabu Puntadewa melayangkan beberapa pucuk surat kepada raja-raja sahabat Pandawa. Para raja sahabat dimintanya mengirim bantuan pasukan dalam melawan kezaliman Prabu Suyudana.

Bharata Yudha

Beberapa lakon yang dikisahkan dari Barata Yudha:

  1. Abimanyu gugur atau Abimanyu Ranjap atau Ranjapan Dikisahkan Abimanyu mandapat tugas memimpin pasukan Pandawa dalam perang Barata Yudha. Abimanyu berhasil menewaskan beberapa panglima perang Kurawa, yaitu Lesmana Mandra Kumara anak Prabu Suyudana, Warsa Kusuma, anak Adipati Karna. Namun Abimanyu sendiri tewas terbunuh dengan puluhan anak panah yang menancap ditubuh Abimanyu. Arjuna bersedih hati dan bersumpah akan membakar diri apabila sampai matahari terbenam belum bisa membalas kematian Abimanyu. Prabu Kresna terperanjat mendengar sumpah Arjuna. Menjelang matahari terbenam, banyak para Kurawa yang menonton Arjuna yang akan melaksanakan Pati Obong. Termasuk juga Jayadrata yang telah membunuh Abimanyu. Ia membuka sedikit jendela kereta dari tempat persembunyiannya. Arjuna segera melihatnya dan dengan cepat menarik anak panahnya. Secara kilat anak panah menyambar batang leher Jayadrata. Jayadrata tewas seketika.
  2. Gatotkaca Gugur Mengisahkan Gatotkaca mendapat tugas dari Prabu Kresna untuk memimpin pasukan Pandawa ke medan laga. Gatotkaca, tokoh sakti yang bisa terbang dan memiliki banyak ajian seperti Aji Brajamusti, Aji Brajadenta, Aji Sapta Pangrungu, dan Topeng Waja. Namun, Gatotkaca memiliki satu kelemahan yaitu, didalam tubuhnya terdapat selongsong senjata Kunta. Pada waktu Gatotkaca dilahirkan, selongsong senjata Kunta itu dipakai memotong tali pusar Gatotkaca. Tali pusar dapat dipotong tetapi selongsong senjata Kunta masuk dalam tubuh bayi Gatotkaca. Gatotkaca dalam pertempuran selalu menghindari Adipati Karna yang memiliki senjata Kunta. Suatu ketika mereka berhadapan, Gatotkaca menghindari panah senjata Kunta dengan terbang ke angkasa, namun senjata Kunta selalu mengikuti kemana Gatotkaca berada. Akhirnya Gatotkaca tewas dalam peperangan karena kembalinya senjata Kunta masuk kedalam selongsong senjata Kunta yang ada dalam tubuh Gatotkaca. Kematian Gatotkaca tidak sia-sia, karena tubuh Gatotkaca menjatuhi kereta Adipati Karna sehingga hancur berkeping-keping.

Demikianlah beberapa kisah dalam pakem Mahabarata dan Ramayana. Ditambah dengan beberapa kisah Barata Yudha, wayang menjadi sangat menarik untuk ditonton. Masih banyak cerita-cerita Barata Yudha yang lain seperti Bisma Gugur, Durna Gugur, Karna Tanding, Salya Gugur, dan Rubuhan (yaitu jatuhnya kerajaan Astina oleh pasukan Pandawa, dimana sisa-sisa Kurawa seperti Dursasana, Patih Sengkuni, dan Prabu Suyudana sendiri gugur).

Selesai perang Batara Yudha masih ada kisah Aswatama Maling, yang mengisahkan Aswatama, anak Pendeta Durna, memasuki perkemahan Pandawa dengan cara membuat terowongan bawah tanah dimalam hari. Dalam peristiwa itu banyak keluarga Pandawa tewas seperti Srikandhi, Drestajumna, Pancawala, Banowati dan para istri Arjuna.

Semoga menambah kasanah pengetahuan kita tentang budaya luhur ini.

 

Salam,

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s