Seri Mahabarata – Bale Segolo – golo

Saat ini muncul kesan bahwa seni wayang identik dengan "barang kuno". Ini tidak lain karena kelangkaan informasi dan kurangnya akses terhadap jenis kesenian ini, sehingga seni wayang kurang dipahami generasi muda khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya.

Padahal wayang kulit sarat dengan kearifan budaya. Bersama dengan agama, kearifan budaya merupakan sarana perekat bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sayangnya selama ini ada kecenderungan memposisikan budaya secara keliru, sebagai objek  propaganda politik dan ekonomi semata. Budaya belum dilihat sebagai komponen yang independen yang mampu memberikan kontribusi yang lebih banyak kepada masyarakat luas dan negara.

Negara seperti Malaysia dan Thailand bisa disebut sebagai contoh negara yang memiliki perhatian tinggi terhadap warisan budaya, menjunjung tinggi keragaman budaya, serta melestarikan dan mengembangkannya. Dengan pendekatan yang tepat, negara-negara tersebut tidak saja mampu tegak dengan menyandang identitas dan karakteristik budaya yang kuat, tapi pada saat yang sama juga mampu menjadikan budaya sebagai salah satu mesin pertumbuhan bagi perekonomian nasional.

Terdapat beberapa kendala yang membuat perhatian sementara generasi muda terhadap wayang semakin berkurang, yaitu :

  1. Kurang lancarnya berbahasa ibu (misal bahasa Jawa), bisa jadi karena dilingkungan keluarga tidak diajarkan oleh kedua orang tuanya sejak dini. Anak-anak akan mengalami kesulitan dalam berbahasa Jawa. Pegelaran wayang menggunakan bahasa Jawa, yang memiliki tingkatan bahasa : jawa ngoko, jawa krama, dan krama inggil.
  2. Adanya dasanama pada beberapa tokoh wayang. Misalnya Bima mempunyai nama lain Bimasena, Sena, dan Werkudara. Arjuna juga memiliki beberapa nama, antara lain Janaka, Dananjaya, Parta, Palguno, Prabu Karitin sewaktu menjadi raja Kahyangan, Kandhi Wrehatnala (waktu penyamaran ke Negeri Wirata berwujud waria), dan Begawan Mintaraga sewaktu bertapa, dan seterusnya.
  3. Adanya sebutan-sebutan kekeluargaan misalnya kakang, yayi, eyang, uwo, paman, dll yang membuat para pemula wayang sulit untuk memahami mengenai silsilah keluarga dalam pewayangan. Maka untuk mengatasi keadaan ini, generasi muda harus belajar silsilah keluarga pewayangan dulu sebelum menikmati pagelaran wayang kulit. Atau boleh juga menonton sambil belajar memahami.
  4. Di saat pendidikan di Sekolah Dasar sudah diajarkan mengenal beberapa tokoh pewayangan, sebut saja misalnya Kresna, Arjuna, Bima, dan Punakawan, biasanya mereka lebih mengenal punakawan, walaupun dalam menyebutkan nama Semar, Gareng, Petruk, Bagong masih banyak yang tertukar, misalnya wayang Gareng dibilang Petruk, dst.

 

Sekilas cerita Bale Segolo – golo

Kisah ini merekam intrik politik di negeri Astina pasca meninggalnya Prabu Pandu Dewonoto. Mayoritas rakyat astina, menghendaki para ksatria Pandowo untuk melanjutkan pemerintahan Astina. Maka Adipati Drestoroto sebagai care taker pemerintahan, memerintahkan Patih Sengkuni untuk merayakan pergantian pemerintahan di padang Bale Segolo – golo. 

Tapi  Joko Pitono, ksatria Kurawa anak Adipati Drestoroto, tidak legowo memberikan kekuasaan ke para satria Pandawa. Ia pun berkoalisi dengan Patih Sengkuni menyusun siasat jahat untuk menggagalkan dan merebut tahta dari Pandawa. Satu-satunya cara, Bima dan saudara–saudaranya harus dibunuh. Maka Patih Sengkuni menyuruh kontraktor ahli bahan peledak yang bernama Purucona untuk mendesain tempat  perhelatan akbar tersebut dengan bahan–bahan yang gampang meledak dan mudah terbakar. 

Wajah Puntodewo
Maka ketika malam penobatan tiba, di tengah eforia dan pesta pora, kebakaran hebat melanda. Esok paginya bala Kurawa menemukan lima sosok mayat pria dan satu wanita. Mereka menyimpulkan mayat–mayat itu adalah lima bersaudara Pandawa, termasuk Raden Puntadewa yang disiapkan menjadi raja, dan Ibunda meraka Dewi Kunti. Dengan kematian Pandawa,  Kurawa  mengklaim sebagai penerus sah kepemimpinan Astina. Mereka lalu melantik Duryudana sebagai raja menggantikan Puntadewa.
Padahal Pandawa dan Kunti selamat dari amuk api, berkat campur tangan Batara Antaboga. Dewa penguasa dasar bumi ini menggagalkan konspirasi jahat Kurawa dengan menciptakan terowongan menuju perut bumi. Lima mayat yang hangus dilalap api tidak lain adalah para sudra, pengemis dan gelandangan, yang menumpang berteduh di padepokan Pandawa di Bale Segolo- golo pada malam menjelang kejadian. Kebaikan hati Kunti menolong mereka telah berbuah keselamatan bagi Pandawa dan masa depan politik mereka.

Pandawa kemudian mendapat konsesi berupa hutan Wanamarta. Di bekas hutan inilah Puntadewa dan saudara-saudaranya membangun kerajaan Pandawa. Intrik Bale Segolo-golo menjadi awal rivalitas politik berkepanjangan antara Kurawa dan Pandawa.

 

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s