Berlibur ke Indonesia

Sudah hampir setahun saya berada di Jepang ini. Pertama kali menginjakkan kaki di Saga tepat 4 Oktober 2008 yang lalu. Kini sudah 31 Juli 2009 dan sebentar lagi memasuki Ramadhan. Adalah pengalaman kedua, melaksanakan ibadah puasa di Jepang. Pertama kali pada Agustus 2007, namun itu hanya seminggu di Jepangnya, dan kedua adalah saat ini. Bedanya, Insya Allah, Ramadhan kali ini akan berpuasa penuh di Saga.

Terbayang, kadang kala saat sendiri, waktu Ramadhan di Jakarta. Bersama diajengku melewati puasa. Makan bareng, pergi bareng, jalan-jalan, shalat tarawih di masjid, buka bersama, .. .. .. dan masih banyak lagi yang teringat. Indah sekali! Apalagi saat merayakan Idul Fitri bersama. Kami jalan kemana suka, ke rumah kerabat, teman, atau ke tempat wisata. Banyak sekali foto-foto yang mengabadikan kebersamaan aku dan diajengku. Tahun ini juga saya tidak merayakan Idul Fitri bersamanya dan juga tidak mudik ke rumah bapak dan ibu, tidak bertemu dengan adik-adik, tidak bertemu dengan teman-teman, tetangga yang dulu menjadi tempat bermain, dan masih banyak lagi. Ada saja dari mereka yang sudah Yusuf Bagas Rinatapergi jauh keluar daerah, ada yang mengikuti suami, bahkan ada yang sudah mendahului menghadap Allah. Wajah-wajah mereka kadang mampir di ingatan aku.

Mungkin dari semua ke-tidak bertemu itu, yang paling berat bagiku adalah jauh dari si ‘pinter’ Nata. Momongan pertama kami ini sungguh anugrah yang paling besar bagi kami. Waktu berangkat ke Jepang, Nata baru berumur 10 bulan, mungkin Nata saat itu belum tahu apa yang terjadi. Dan nanti, Nata sudah akan 2 tahun pada 30 Nopember tahun ini. Selama itu, aku merasa sedikit sekali mengikuti perkembangan Nata. Sedih!!! Saya merasa aneh, koq baru saat sekarang jauh dari rumah, semua keindahan itu terasakan. Kenapa ya pada saat dulu di Indonesia, seolah waktu berlalu begitu saja? Mungkin, itulah manusia, yang kala jauh baru merasakan arti dekat.

Alhamdulilah, saya berkesempatan pulang akhir September tahun ini. Senang sekali!

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum berangkat. Untuk dokumen saja ada beberapa buah. Pertama dimulai dari ijin ke Sensei. Setelah mendapatkan surat ijin dari Sensei, berikutnya adalah surat re-entry permit dari Imigrasi Jepang. Insya Allah, Jumat 31 Juli ini akan dicoba selesaikan. Rencananya, setelah itu baru mengirimkan surat exit permit (untuk kembali ke Jepang dari Indonesia) ke KBRI Tokyo. Setelah itu ada juga tiket, wah . . . untuk yang satu ini harus hunting dulu untuk mendapatkan harga yang murah. Denger-denger sih untuk bulan September besok harga tiket pesawat rata-rata turun karena bukan ‘in season’ katanya (alias bukan musim liburan). Maskapainya juga banyak pilihan, ada Garuda, Eva air, Singapore Airlines, atau China Airlines. Pemilihan maskapai ini menyesuaikan dengan bendara keberangkatan juga, karena tidak semua maskapai boarding di semua bandara di Jepang. Setidaknya ada 2 pilihan bandara yang paling mungkin dari Saga ini, yaitu Fukuoka (yang terdekat) dan Osaka (lebih jauh). OK, yang ini sambil jalan bisa . . . sambil cari info lagi lebih detil.

Selain dokumen yang sudah harus siap sebelum berangkat, bawaan juga perlu diperhitungkan. Sudah ada setumpuk mainan untuk Nata yang musti dibawa. Ada mobil-mobilan, robot, kereta api, race car, dan masih ada yang lainnya. Ehm…ngepaknya gimana ya?

Akhirnya, pilihan yang diambil adalah berangkat dari Osaka. Dihitung-hitung, lebih murah daripada berangkat dari Fukuoka, disamping pengalaman baru ke Osaka/Kansai. Tiket yang diperlukan, termasuk dari Fukuoka-Kansai, kurang lebih 65.000 yen. Ini sudah termasuk tiket return, murah bukan?! Sebenarnya, harga tiket ini bukan menjadi alasan utama untuk pulang, namun bertemu dengan keluarga adalah jauh lebih bermakna.

Tiket diset untuk tanggal 28 September dan 20 Oktober. Dengan menumpang Garuda Indonesia, direncanakan pesawat take off pada jam 11 siang, transit di Denpasar pada jam 18, dan Insya Allah tiba di Jakarta pada jam 19.30 malam. Jadi pada hari yang sama sudah sampai di Jakarta. Semoga!!

Sekarang ini tinggal ijin re-exit permit dari KBRI yang belum selesai. Surat sudah dikirimkan 4 hari yang lalu, namun sampai sekarang belum ada kabar lagi. Kata temen sih cepet, tapi . . . ditunggu saja sampai minggu depan. Kalau belum ada kabar juga, aku coba untuk berkirim lagi ke KBRI.

 

Berikut disajikan prosedur untuk mendapatkan exit permit dari KBRI Jepang.

KBRI Tokyo

Bagi para Mahasiswa/Karyasiswa (yang memiliki paspor dinas/biru) yang akan berlibur/kembali sementara ke Indonesia diharapkan membawa surat pengantar dari Kedutaan Besar RI di Tokyo untuk keperluan meminta exit permit dari Departemen Luar Negeri di Jakarta.

Untuk mendapatkan surat keterangan berlibur/kembali sementara ke Indonesia diperlukan persyaratan :

  1. Sudah melapor/terdaftar di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo.
  2. Telah menyampaikan laporan belajar sampai periode tiga bulan terakhir.
  3. Formulir Permohonan Surat Berlibur kepada Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (formulir ini dapat didownload dibawah).
  4. Surat keterangan izin berlibur dari pimpinan/dosen pembimbing pada perguruan tinggi yang bersangkutan (bisa dari Sensei).
  5. Memiliki izin Re-Entry dari Kantor Imigrasi Jepang (dicari di syakusho).
  6. Melampirkan Surat Persetujuan Sekretariat Kabinet RI yang masih berlaku.
  7. Photocopy paspor yang bersangkutan. (Halaman : Pemilik, Masa berlaku Paspor, Visa, Re-entry)
  8. Diurus paling lambat 14 hari sebelum tanggal keberangkatan.Apabila diurus melalui pos, diharuskan melampirkan amplop [ukuran 12 cm x 23.5 cm] yang sudah ditulisi nama dan alamat lengkap serta perangko seharga 80 yen.

Mahasiswa/Karyasiswa Indonesia di Jepang yang memiliki paspor dinas/biru yang akan pergi ke negara lain berkenaan dengan penyelesaian studinya dan memerlukan note verbal, dapat mengurusnya melalui Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo.

Untuk mendapatkan Note Verbal tersebut diperlukan persyaratan :

  1. Sudah melapor/terdaftar di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo.
  2. Telah menyampaikan laporan belajar sampai periode tiga bulan terakhir.
  3. Surat permohonan kepada Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo.
  4. Memiliki izin Re-Entry dari Kantor Imigrasi Jepang.
  5. Izin tertulis dari pimpinan instansi yang bersangkutan.
  6. Izin tertulis dari dosen pembimbing yang bersangkutan.
  7. Surat undangan untuk menghadiri seminar, konferensi, dsb.
  8. Photocopy paspor yang bersangkutan.
  9. Mengisi formulir permohonan Note Verbal.
  10. Diurus paling lambat 1 bulan sebelum tanggal keberangkatan.
  11. Untuk pengurusan Note Verbal tidak dikenakan biaya administrasi.

Apabila diurus melalui pos, harap melampirkan amplop yang sudah ditulisi nama dan alamat lengkap serta perangko seharga 120 yen.

Download Formulir
1.
Formulir Permohonan Surat Berlibur
2. Formulir Permohonan Note Verbal

 

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s