Marsekal (pur) Omar Dhani Meninggal Dunia

Mantan Menteri Panglima Angkatan Udara RI Marsekal (pur) Omar Dhani tutup usia pada tanggal 24 Juli 2009, Jumat siang pukul 14.05 WIB. Omar mengembuskan napas terakhir setelah terserang radang paru-paru dan komplikasi penyakit tua. Almarhum wafat di usia 85 tahun sesudah dirawat di RS Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Almarhum diberikan kesempatan untuk menghabiskan hari tuanya bersama keluarga selama 14 tahun.

Omardhani

Omar Dhani pernah dituduh terlibat dalam pemberontakan G 30 S/PKI. Tokoh kelahiran Solo, 23 Januari 1924, itu diadili dalam Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan divonis hukuman mati pada Desember 1966. Namun, setelah 29 tahun mendekam di penjara, bersama Soebandrio, dia diberi grasi dan dibebaskan pada 2 Juni 1995. Ayah lima anak itu menghirup udara bebas pada 15 Agustus 1995.

Putra mantan Bupati Boyolali ini mengawali pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Klaten, Jawa Tengah, tahun 1937. Kemudian ia juga bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Kristen, Solo tahun 1940. Di tahun 1942, Omar masuk Algemeene Middlebare School (AMS) B di Yogyakarta.
Di tahun 1946, ia duduk di bangku Sekolah Menengah Teknologi (SMT). Suami dari Sri Wuryanti ini sebelum berkarir di militer (AURI sejak November 1950), pernah meniti karir sebagai Sinder Perkebunan Kebon Arum, Klaten (1942-1944), penyiar RRI/Voice of Indonesia, Tawangmangu (1946) dan penyiar bahasa Inggris di Kementerian Penerangan dan RRI Jakarta tahun 1946-1947.

Dia mengawali karir penerbang pada TALOA Academy of Aeronautics, Bakersfield, California, pada 1952. Pada 1956, dia tugas belajar di Royal Air Force Staff College di Andover, Inggris. Pulang dari Inggris, dia terlibat dalam berbagai tugas. Misalnya, menumpas pemberontakan PRRI di Sumatera dan ambil bagian secara aktif dalam operasi udara menumpas pemberontakan di wilayah Timur Indonesia.

Karir militernya (TNI Angkatan Udara) terbilang cemerlang. Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Asvi Warman Adam (Sejarah: Omar Dani dan AURI, Kompas, Jumat, 26 Juni 2009), hanya dalam waktu 9,5 tahun, Omar Dhani yang saat itu belum genap berusia 38 tahun telah mencapai posisi puncak di Angkatan Udara, setelah Presiden Soekarno melantiknya menjadi Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara pada 19 Januari 1962. Tampaknya, Presiden Soekarno memandangnya sebagai seorang perwira tinggi yang penuh dedikasi. Walaupun mungkin, di mata lawan politiknya, Omar dianggap sebagai sosok yang sangat lihai mencari muka.

Sebagai contoh, Omar Dhani menyambut dengan antusias tatkala Presiden Soekarno mengisyaratkan pembentukan "Angkatan Kelima", yaitu buruh dan petani yang dipersenjatai, Sementara, pihak Angkatan Darat tampak jelas tak setuju. Omar pun menyetujui Marxisme diajarkan di sekolah-sekolah dan Kursus Angkatan Udara. Ia bahkan tak keberatan apabila penasihat dari unsur Nasakom ditempatkan mendampingi pimpinan Angkatan Udara.
Kedekatan dengan Bung Karno, membuat mantan Panglima Komando Siaga pada masa Dwikora ini makin ke ‘kiri’. Kelak, keberpihakannya semakin jelas. Omar membiarkan "sukarelawan" yang kemudian menyokong G30S/PKI dilatih di sekitar Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdana Kusumah oleh oknum perwira-perwira progresif kalangan TNI-AU.(Jajang Jamaludin, Omar Dhani: Figur yang Disegani Sekaligus Dicurigai,  http://www.tempo.co.id/harian/ profil/prof-omardhani.html). Kala itu kawasan Lubang Buaya, yang dekat dengan Bandara Halim Perdanakusuma, digunakan untuk latihan Gerwani, salah satu onderbouw PKI.

Akhirnya, perjalanan sejarah bangsa bergerak ke arah yang tidak menguntungkan bagi Omar Dhani. Omar Dhani yang sangat loyal kepada Soekarno dituding terlibat bersama AURI dalam Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Nama Omar Dhani sulit dilepaskan dari gerakan yang membawa malapetaka itu. Ia salah satu dari dua tokoh nasional yang menyambut Bung Karno di Halim, 1 Oktober 1965 pagi. Tokoh lainnya adalah DN Aidit, Ketua CC PKI. Selain itu, pada saat gerakan penculikan para jenderal tanggal 30 September 1965 meletus, Omar Dhani menulis perintah harian Men/Pangau setelah mendengar siaran berita RRI pukul 07.00 tentang G30S. Perintah harian itulah, yang kemudian menjadi persoalan besar sehingga ia diadili Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan divonis hukuman mati (Desember 1966).

Omar Dani dan Bulan Oktober

Laksamana Madya Omar Dani, Menteri/Panglima Angkatan Udara 1962-1965, menjadikan Oktober sebagai bulan istimewa sekaligus kenangan. Ini, antara lain, berkait dengan ”berbagai persoalan” di tubuh Angkatan Udara yang ia pimpin sejak 20 Januari 1962, kemudian disebut-sebutnya ia dalam peristiwa G30S, serta ”kepergian” ke negara-negara di Asia dan Eropa atas perintah Presiden Soekarno.

Omar Dani berangkat ke Kamboja pada 19 Oktober 1965 menyusul ditandatanganinya surat perintah Presiden Soekarno tentang penugasan ke negara-negara Asia dan Eropa. Selama Omar Dani di luar negeri, seperti ditulis dalam buku “Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku—Pleidoi Omar Dani” (ISAI 2001), Laksda Udara Sri Moeljono Herlambang ditunjuk sebagai Men/Pangau ad interim. Pada 3 Desember 1965, Omar Dani bahkan diangkat menjadi Panglima Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang dengan kedudukan setingkat menteri.

Ketika pembersihan merambat ke dalam tubuh ABRI dan pelaku-pelaku G30S mulai diadili, kesaksian Omar kian terasa diperlukan. Ia dipanggil pulang dari Pnom Penh, Kamboja. Dengan menumpang pesawat Hercules C-130 milik AURI, pada 20 April 1966 Omar Dani sekeluarga kembali ke Tanah Air. Tak dinyana, petugas yang menjemputnya di bandara ternyata mengantarkan Omar ke rumah tahanan.

Setelah Omar Dani ditangkap, kemudian beliau diajukan ke depan sidang mahkamah militer luar biasa pada Desember 1966. Mengenakan setelan jas coklat, ia tampak sedikit kurus. Proses pengadilan sendiri berjalan lancar. Mahmilub menjatuhkan hukuman mati untuk bekas laksamana madya itu.

Setelah hampir lima belas tahun mendekam di penjara, Omar belum juga menerima hukuman mati. Di kamar tahanan, Omar kabarnya tekun mempelajari Islam. Usai shalat Isya, Omar suka berzikir. Bahkan, hampir setiap tengah malam, pukul 24.00, ia mengambil air wudhu lalu shalat tahajud. Ia berharap dapat menjalani ekskusi setelah lebih dahulu shalat malam. Pelaksanaan eksekusi biasanya memang diberitahukan kepada narapidana sekitar tengah malam. Di samping itu, selama di penjara, Omar pun rajin puasa Senin-Kamis.

Pada 14 Desember 1982, Omar Dhani bersama Soebandrio dipanggil Mahmilti. Pemanggilan ini ternyata bukan untuk melaksanakan eksekusi. Secara resmi, pemerintah memberikan grasi (keringanan hukuman) kepada kedua tokoh tersebut. Berupa hukuman penjara seumur hidup. Ketika media massa menyiarkan berita grasi itu, banyak karangan bunga, telepon, dan surat yang berdatangan ke kediaman Omar di Jalan Cipaku, Kebayoran Baru, Jakarta.

Tak berhenti di situ, Omar dan dua mantan petinggi Orde Lama lainnya, kemudian sekali lagi mengajukan permohonan grasi. Sesuatu yang baru dalam hukum Indonesia, pengajuan grasi lebih dari satu kali.Terhitung pukul 00.00 tanggal 16 Agustus 1995, akhirnya Omar Dhani berhak menghirup udara bebas. Berdasarkan keputusan Presiden Soeharto tanggal 2 Juni 1995 dan yang kemudian diumumkan Mensesneg Moerdiono di Gedung Utama Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Jumat (28/7) siang, Omar Dhani memperoleh grasi. Saat itu Mensesneg mengatakan, setelah tanggal 15 Agustus 1995, Soebandrio, Omar Dhani, dan Soegeng Soetarto akan menghirup udara bebas di tengah masyarakat. Kepulangan Omar disambut hangat oleh keluarga, kerabat, dan teman-teman sejawat.

Omar Dhani akhirnya memang mendapat kesempatan untuk menghabiskan hari tuanya di tengah anak dan cucu. Tapi, sejumlah pertanyaan besar rupanya masih enggan meninggalkan perwira tua (almarhum) Omar Dhani. Pertanyaan yang selalu mengemuka adalah seputar keterlibatan Omar dalam peristiwa berdarah tanggal 30 September 1965. Vonis Mahmilub ternyata tidak memuaskan orang. Sejumlah "buku putih" memang telah mencoba membuat klarifikasi. Sayangnya, klarifikasi itu pun umumnya belum bisa menghitam-putihkan peristiwa 30 September 1965 yang hingga kini masih "abu-abu".

 

Selamat jalan Pak Omar Dhani.
pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab sama seperti almarhum Laksamana S.Suryadharma.
** Disarikan dari Kompas, Gatra, Tempo, dan sumber lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s