Lipur Sugiyanta

My virtual home – http://lipurs.wordpress.com

Rendah Diri

Posted by Lipur Sugiyanta on September 25, 2009

Suatu ketika saya mendapat undangan acara akhirus-sanah (tutup tahun) sebuah Madrasah Tsanawiyyah. Seperti umumnya acara di negeri ini, ada serangkaian sambutan yang berderet-deret. Salah satunya berasal dari pimpinan Yayasan tersebut.

“Anak-anakku, alhamdulillaah kalian bisa menunjukkan bahwa meskipun kalian sekolah di Madrasah Tsanawiyyah, tetapi kalian tidak kalah dengan murid-murid sekolah umum”, kata bapak ini bersemangat.

Beliau melanjutkan, “Dengan mengikuti UAN, kalian bisa membuktikan bahwa Tsanawiyyah tidak kalah dengan SMP. Kalian nanti bisa masuk SMA umum, tidak hanya Madrasah Aliyah. Meskipun begitu, bagi yang bersekolah di Aliyah, tidak perlu berkecil hati, sebab sekarang juga ada jurusan Fisika, Biologi, dan lain-lain. Jadi tidak kalah dengan SMA.”

Rendah diri Mendengar itu, campur aduk perasaan saya. Antara sedih dan gembira, trenyuh dan iba. Saya trenyuh melihat semangatnya, sedih mendengar perkataannya. Bapak kita ini ingin menyemangati, tetapi tanpa disadari justru merapuhkan. Seakan-akan membanggakan, padahal sesusungguhnya justru menjatuhkan percaya diri.

Boleh jadi salah seorang di antara kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat berada di antara rekan-rekannya, tetapi tidak tatkala berhadapan anak-anak ‘sekolah umum’. Mereka memiliki rasa percaya diri saat berada di lingkungannya sendiri. Tetapi begitu di tempat lain, dihinggapi rendah diri.

Hari ini, kita mendapati anak-anak malu belajar agama. Sementara kepada mereka yang belajar Fisika, Biologi, atau ilmu-ilmu lain sejenis itu, kita menaruh hormat sedalam-dalamnya. Tentu tak salah mendalami Fisika sebagaimana para ‘ulama kita terdahulu adalah peletak dasar ilmu alam yang sangat berharga. Tetapi merasa rendah karena cuma belajar ‘agama’ di hadapan mereka yang menekuni sains adalah masalah yang dapat membawa kita semakin kehilangan ‘izzah. Harga diri. Kehormatan.

Salah satu penyebab hilangnya izzah adalah cara kita memotivasi anak. Akibatnya, banyak di antara mereka yang belajar menekuni ilmu agama, tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kecuali mereka yang belajar ilmu agama karena kesadaran setelah dewasa.

Akibat berikutnya mudah ditebak. Jika orang-orang ini tidak memiliki percaya diri yang tinggi sebagai pembawa Islam; jika orang-orang yang menggenggam ‘ilmu agama merasa rendah diri terhadap ‘ilmu yang dipelajarinya, maka sekurang-kurangnya tiga akibat yang bisa muncul :

Pertama, akan menyibukkan diri belajar ilmu-ilmu yang dapat mengangkat ‘derajat mereka’ sehingga sejajar dengan orang-orang yang belajar ilmu-ilmu spekulatif seperti Psikologi, Sosiologi, atau Antropologi. Tak salah, tetapi kalau kita belajar dengan sikap mental yang rapuh dan datang sebagai pecundang, apakah yang bisa diharapkan dari diri sendiri kecuali runtuhnya percaya diri sebagai umat Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam?

Hari ini telah ada orang-orang yang merasa agama ini tak memadai lagi untuk memecah masalah kehidupan, dan bahkan sampai menempatkan agama suci sebagai ajaran yang harus diuji. Di saat yang sama, rendah diri itu muncul dalam bentuknya yang lain : menolak semua yang dianggap bukan dari agama. Menolak bukan karena paham, tetapi karena waham.

Kedua, akibat sikap mental yang seperti ini, agama tak lagi menjadi sumber inspirasi yang membangkitkan semangat. Tidak menjadi jiwa dalam setiap langkah kita. Sebaliknya, kita mengerahkan pikiran, menguras tenaga, mencurahkan perhatian dan mengambil waktu untuk menjadikan agama sesuai hasrat dan keinginan. Inilah awal dari fitnah syubhat. Dan inilah yang banyak kita saksikan sekarang.

Harap-harap cemas saya berdo’a, semoga tak ada yang melakukan reinterpretasi al-Qur’an untuk demokrasi, femenisme, atau sejenis itu. Tetapi apa yang telah kita lakukan agar ini semua tidak terjadi? Sungguh, telah saya saksikan orang-orang yang sibuk mengeluarkan pendapat aneh semata agar tidak kalah; bukan untuk membangun kejayaan karena keyakinan.

Ketiga, kepercayaan umat terhadap mereka akan rendah. Mereka dianggap tidak kredibel lagi, kecuali untuk membacakan do’a. Padahal do’a tidak lagi diyakini sebagai jantung agama, tetapi sekadar pemanis acara. Apalagi tak sedikit orang yang dianggap ‘alim, bersedia menjadi sekadar penggembira. Pengurus masjid pun lebih memuliakan artis daripada qari’.

Teringatlah saya pada sebuah pelatihan. Seorang manusia ‘tukang teriak’ digelari ustadz. Sementara yang membawakan pesan spiritual menegaskan berkali-kali bahwa ia bukan ustadz. Ini tampaknya sikap tawadhu’. Tetapi tawadhu’ saja belum cukup bila tidak disertai ‘ilmu tentang bagaimana sikap tawadhu’ itu harus diwujudkan. Apalagi kalau sampai harus membangkitkan kesan buruk ustadz hanya sebagai tukang teriak. Astaghfirullaah, alangkah besarnya kerusakan yang bisa ditimbulkan di masa yang akan datang. Alangkah besar rendah diri yang telah bertumpuk.

Agar Tak Salah Memotivasi

Awalnya memang dari jiwa. Jiwa yang bersih akan melahirkan ucapan yang bersih dan bagus kesudahannya. Jiwa yang hidup akan memunculkan kekuatan pada tiap kata yang diucapkan. Selebihnya, ada ‘ilmu yang harus dipelajari. Pada tiap-tiap nasihat Nabi ada pelajaran yang patut direnungkan. Semoga dengan itu kita dapat mengambil manfaat untuk membaguskan diri kita, anak-anak kita, serta keluarga kita.

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Rabb kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam berasal dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang non Arab kecuali karena taqwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Ada pesan penting dalam hadits itu : persamaan asasi manusia. Kaum mukmin itu bersaudara. Apabila ikatan persaudaraan ini kuat, maka cukuplah keIslaman dan keimanan sebagai bekal yang paling berharga. Siapapun yang menggenggam iman dalam hatinya, maka pada diri mereka akan tumbuh izzah karena iman melahirkan percaya diri sebagai mukmin, sehingga mereka akan dengan mantap berkata, “Isyhadu bi anna muslimun.” Umat seperti ini memiliki kepercayaan diri kolektif.

Sebelum pesan persamaan, terlebih dahulu dibangkitkan kesadaran sebagai manusia pilihan yang hadir ke dunia untuk mewujudkan tegaknya kalimat Allah subhanahu wa ta’ala. Mari kita lihat ayat-ayat yang awal diturunkan, “Hai orang-orang yang berselimut! Bangunlah dan berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. al-Muddatstsir : 1-4)

al-Qur’an juga menguatkan kesadaran sebagai manusia pilihan dikarenakan iman dan Islam. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (QS. ali-Imraan : 110)

Yang pertama hanya membangkitkan semangat agar tidak kalah. Manusia kelas dua. Mereka bertindak hanya untuk menunjukkan kepada manusia bahwa mereka mampu. Sedangkan yang kedua membangkitkan kesadaran tentang persamaan asasi karena iman, persamaan asasi yang datang dari Allah, dan kesadaran sebagai manusia pilihan yang mengemban misi besar dalam hidup ini.

Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik. Semoga Allah membaguskan diri kita dan keturunan kita seluruhnya dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Aamiin…

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: